31 Desember 2014

Misi hidup dalam kerja

| 31 Desember 2014
Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk santai, menggelar dagangannya, nasi bungkus. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi, mengerubungi dan membuatnya sibuk melayani. Bagi mereka, menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah.

Hampir-hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian murah. Lalu berapa keuntungan yang diperoleh? Wanita itu terkekeh menjawab, “Bisa ikut makan dan beli sedikit sabun.” Tapi bukankah ia bisa menaikkan harga sedikit? Sekali lagi ia terkekeh, “Lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?” katanya sambil menunjuk para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.

Ah! Betapa indahnya, bila sebongkah misi hidup, dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua di atas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang teampak keras berbatu ini menjadi lembut, bahkan mengobati luka. Bukankah demikian tugas kita dalam kerja, menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar